Sunday, January 12, 2014

Drama seri memang keji


Ayo angkat tangan,
bagi yang masih ingat drama seri mandarin judulnya...
Meteor Garden.
Untuk generasi 90 an dan 2000 an awal,
pasti nggak asing ama foto di atas.
Termasuk saya sendiri
yang dulu sangat menggandrungi drama tersebut.
Tahun 2001 dan pertama kali kalau nggak salah
disiarkan di Indosiar jam 10 malam.
Wah, mau nggak mau
saya nunggu serian itu selesai baru tidur.
Besoknya untuk bahan cerita bareng teman cewek lainnya,
yang tak kalah gandrung dengan 4 cowok metroseksual itu.
Saya hampir tak pernah absent untuk nonton di malam hari,
walaupun paha dan tangan dikeroyok nyamuk.
Rela deh rela demi melihat aksi
4 cowok ganteng yang tenar dengan nama F4.
Tiap kali udah dengar lagu pembukanya,
saya berteriak histeris dari dalam kamar,
lalu buru-buru stand by di depan TV.
Meskipun udah nguap-nguap tetap bertahan,
demi membayar rasa penasaran akan kisah selanjutnya.
Honestly, saya terbius oleh kegantengan mereka,
badan proporsional, tinggi, kurus, pakai baju bagus,
rambut ditata sedemikian rupa, ditambah mobil mewah
semua itu membuat mereka tampil menawan.
Ohhhhhh my gosh,
pokoknya saya tergila-gila deh!
Dan saya nggak sendirian,
hampir semua cewek di sekolah juga menyukai hal yang sama,
dan tak pernah lupa untuk nonton serian itu tiap malam.
Rasanya dapat suntikan energi deh kalau udah
nonton mereka,
terserah kalau saya mau dibilang lebay tapi...
itulah yang saya rasakan.
Jaman itu drama meteor garden sangat nge-BOOM,
menciptakan lahan subur untuk para pengusaha.
Mereka pintar melihat peluang,
sehingga menjual sesuatu yang lain selain
drama serinya...
contohnya alat-alat tulis, snack, tempat hp, kaos, poster
majalah, tempat minum, sampai tirai pun ada gambar F4.
Bayangin aja betapa gilanya,
snack yang bergambar F4 laku keras,
padahal rasanya nggak enak.
Rasa nomer kesekian lah,
ide cerita drama juga nomer kesekian lah,
yang penting bisa berlama-lama melihat penampilan
cowok-cowok ganteng.





Foto di atas adalah salah satu bukti yang masih ada,
betapa saya sangat mengidolakan mereka.
Cara mereka ngobrol, berjalan, memandang semua tak luput
dari perhatian saya.
Menghafalkan dialog drama itu jauh lebih mudah dan jauh lebih cepat
daripada menghafalkan materi pelajaran.
Hampir setiap hari saat perjalanan pulang sekolah,
saya mampir di kios majalah,
kalau-kalau ada majalah yang memuat tentang mereka,
pasti saya beli.
Alhasil sebagian besar uang saku saya alokasikan untuk
kepuasan pribadi,
melihat berbagai pose ganteng mereka, dan tentu saja
nggak mau ketinggalan update berita seputar itu.
Alamak, memalukan memang...
bagaimana saya bisa sebegitunya.
Sekali lagi saya nggak sendirian,
secara penggemar mereka dulu seantero jagad wanita..
hampir semuanya mengagumi F4.
Seingat saya dulu,
satu majalah seharga 20 ribuan,
cukup mahal pada masa itu,
nggak peduli...yang ada di pikiran hanya,
saya harus memilikinya!
Kalau dipikir-pikir lagi memang mengerikan,
saya sepertinya sudah keluar batas wajar mengagumi artis,
hhmmm rasanya lebih pada terobsesi.
Naksir cowok pun pilih yang dandanannya mirip mereka,
kaos agak ketat, rambut dipotong zhaggy...hahaha!
Rambut selurus papan jadi ikutan nge-BOOM juga,
gara-gara pemeran wanitanya a.k.a San Chai,
memiliki rambut lurus dan digerai mirip curtain kamar.
Wah, otomatis teman-teman saya yang rambutnya keriting
langsung ngumpulin uang mati-matian demi ion rambut.
Bahkan!!!! yang rambutnya sudah lurus pun tetap berusaha mati-matian
untuk ion agar makin lurus...selurus papan,
pokoknya harus seperti San Chai deh.
Menggelikan memang,
saya sendiri sampai beli gel pelurus demi rambut selurus papan,
padahal rambut saya sudah lurus..sangat lurus.
Intinya, sebagian besar dari kami hanya terobsesi...
terbius mimpi indah yang disuguhkan oleh drama seri
sampai pada akhirnya nggak jadi diri sendiri.
#tepokjidat.






Aha! mungkin drama seri boy before flowers..
masih segar dalam ingatan anda dan saya,
drama ini launching tahun 2009 lalu.
Ceritanya sama persis dengan meteor garden,
yang dulu mandarin yang kali ini korea punya.
Ini bukti biusan mimpi indah meteor garden
masih belum usai.
Masyarakat masih haus akan drama seri dengan cerita serupa,
pemainnya pun 4 cowok ganteng, 1 cewek imut-imut.
Kali ini,
saya nggak seheboh dulu...nggak beli majalah maupun
pernak-pernik yang lain.
Cukup hanya nonton dvd nya saja, bareng anak kost cewek
yang lain.
Setiap hari pulang kuliah sampai sore,
kami ngumpul di satu kamar dan nonton bareng,
bahkan sampai ada yang nangis karena terbawa emosi.
Hhmmm memang untuk mengaduk emosi penonton drama,
serahkan pada Cina dan Korea deh,
mereka punya resep manjur.
Kalau ditarik garis lurus,
sebenarnya inti cerita simple, yang bikin lama itu alurnya
yang diputar-putar dan kalau nonton si TV, berderetan iklan lah
yang bikin makin lama dan makin geregetan.
Tentang cowok yang berasal dari keluarga kaya,
mencintai seorang cewek dari keluarga yang tidak kaya.
Ditambah penampilan keren cowok itu dan gank nya,
juga baju-baju modis yang bikin para penonton cewek
makin berteriak histeris.
Hahaha!
demam drama seri itu kalau untuk saya pribadi sudah berakhir,
nggak mau lagi saya hidup dengan terbius dunia mimpi indah ala
korean drama.





Tak bisa dipungkiri,
Korean drama memang meraup keuntungan besar dari
para penggemar fanatiknya.
Sampai sekarang ada ratusan judul yang sudah dilaunching
dan sebagian besar laris banget dipasaran.
Kalau untuk saya pribadi,
memang tak begitu suka drama korea.
Terlalu berbelit-belit, berputar-putar seperti benang ruwet,
sambil memainkan emosi kita.
Yang lebih bikin prihatin adalah,
dampak negatif dari kecanduan nonton drama sejenis Meteor Garden
dan Boys Before Flowers.
Buktinya, saya yang rambutnya sudah lurus
sampai beli gel pelurus rambut demi meniru pemeran wanita
dan berharap dapat cowok secakep F4.
Ya, apalagi harapannya kalau bukan seperti itu,
meniru penampilan dan berimajinasi
memiliki kisah hidup yang sama pula.
Dulu nih jamannya Meteor Garden,
cewek yang rambutnya nggak lurus diejek, dijadikan bahan guyonan,
yang ranbutnya lurus tergerai indah entah alami atau obat kimia salon...
akan lebih diterima dalam pergaulan.
Begitu juga sebaliknya,
kalau cowok rambutnya cepak ah nggak bakal dilirik,
yang laris manis itu yang pakai kaos atau kemeja ketat dengan
potongan ranbut zhaggy.
Otomatis bagi yang terseret arus,
pada merubah penampilannya mati-matian demi penerimaan
di lingkungan sosial.
Fiuh, tragis juga setelah saya bahas begini...
padahal kita diciptakan dengan bentuk yang bermacam-macam,
dan tiap pribadi punya keunikannya sendiri.
Nggak ada larangan untuk nonton drama seri,
yang tidak disarankan adalah...
terbuai mimpi indah sehingga kita teralihkan dari kenyataan.
Saya sempat menertawakan diri sendiri,
betapa konyolnya saya waktu itu...
ngapain pakai gel pelurus rambut segala, padahal rambut
sudah lurus.
Coba kalau tidak tercemar gel pelurus rambut yang berbahan dasar kimia,
plus uangnya bisa digunakan untuk yang lain.
Setiap pribadi punya peran yang harus dilakoni,
sebagai orang tua, anak, menantu, mertua, dengan berbagai macam
karakter dan profesi.
Tak perlu ragu dengan Sang Maha Agung yang menciptakan
anda dan saya begitu rupa.
Menjadi diri sendiri lebih damai, memberi kelegaan,
dan membuat kita lebih maksimal.
Silahkan bagi yang masih mau melanjutkan
nonton serian korea, mandarin, western,
yang penting anda tak terbuai mimpi indah
dan hal-hal manis khas drama yang diharapkan
terjadi sungguh di dunia nyata.
Serian hidup kita juga nggak kalah menarik lho,
coba kita ingat-ingat lagi
perjalanan dari masa kecil sampai sekarang.
Tentunya banyak hal baik, hal manis,
yang nggak kalah dari yang disuguhkan
para sutradara.
Love your life ;)


Saturday, January 11, 2014

Malam minggu kelabu

Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan di akhir minggu a.k.a weekend,
cara hemat maupun cara foya-foya
semua terserah pilihan anda.
Kalau mau cara hemat, aman di kantong tapi
tetap ada manfaatnya....
Bisa dicoba beberapa langkah berikut ini:

1.Watching movie.
Nggak harus pergi ke bioskop,
maksud saya di sini, adalah menyewa film di rental,
atau ngopy dari laptop/hardisc teman.
Sedangkan camilannya bisa beli di toko atau mini market terdekat,
apalagi kalau nonton film yang genrenya horor dan action.
Dijamin, malam minggu nggak bakal garing.

2.Bersih-bersih kamar atau rumah.
Dengan aktivitas sehari-hari mungkin kita jarang menilik ulang,
hal-hal detail yang berkaitan dengan kebersihan.
Seperti mengganti sprei, merapikan atau membuang kertas2 yang tak
lagi dipakai, mencuci kaos kaki, sandal, sepatu.
Bersih itu indah dan nyaman, daripada malam minggu buang uang
lebih baik digunakan untuk melakukan aktivitas yang berguna,
plus hemat.

3.Olahraga
Saya tidak menyarankan harus ke gym, yang membayar sekian puluh ribu
untuk sekali datang.
Saya pribadi juga nggak suka ke gym, itu salah satu bentuk
pemborosan yang sampulnya memperoleh badan bugar.
Olahraga bisa apa saja, yang penting badan bergerak dengan semangat.
Bisa jogging bareng teman, bisa sewa sepeda which is cuma beberapa ribu
rupiah saja untuk beberapa jam.

4.Wisata kuliner.
Saya lebih suka memakai istilah maling
a.k.a makan keliling,
Nggal harus ke restoran mahal, hotel mewah untuk mencicipi
makanan.
Bisa ke warung tegal, warung prasmanan, ataupun nasi kucing.
Di Salatiga pedagang nasi kucing sangat menjamur,
di beberapa tempat dengan keunggulan masing-masing.





Saya bersama Mr.Software Engineer sudah melalui puluhan bahkan
ratusan malam mingguan.
Berbagai macam cara sudah saya coba,
mulai dari pergi keluar kota seperti Solo, Semarang, Jogja,
sampai bengong berdua di kontrakan, hahaha!
Kebetulan kami berdua suka makan keliling,
mencoba berbagai jenis makanan (halal).
Kadang dengan harga terjangkau, kadang juga rada sedikit
mahal untuk refreshing.
Kemarin...
kami berdua memutuskan untuk pergi ke Boyolali.
Jaraknya dekat, hanya sekitar 45 menit naik motor dari Salatiga.
Boyolali juga kota kecil,
tak beda jauh dengan Salatiga.
Namun untuk penataan kotanya,
saya lebih suka Boyolali, lebih tertib, bersih,
dan indah dipandang.
Juga selama berada di sana, tak begitu banyak pengamen
maupun tukang parkir, ini sebuah nilai plus!
Cuaca kemarin sangat panas,
matahari bersinar terang dan mengeringkan
semua jemuran saya.
Hhmmmm dirasa waktu yang bagus untuk keluar kota,
kami berdua semangat penuh menuju kota
yang terletak di tengah-tengah Solo dan Salatiga ini.





Ada beberapa pilihan tempat makan,
begitu kami masuk di kota Boyolali.
Aneka macam steak, roti bakar, soto dan tenti saja
susu sapi di berbagai titik.
Unik ya,
karena kalau di Salatiga cafe yang menyediakan steak tak sebanyak
di Boyolali.
Setelah pilih memilih...
kami memutuskan berhenti di Central coffee and steak.
Harganya sangat terjangkau,
untuk crispy steak paling mahal 17 ribu,
untuk original steak paling mahal 65 ribu.
Menu minumannya juga sangat beragam,
ada aneka macam shake, kopi, ice cream.
Lokasinya strategis,
terletak di pinggir jalan utama,
tempat parkirnya pun ada atapnya
jadi motor nggak kehujanan, sip!
Tapi terlepas dari semuanya
sungguh saya tidak menyarankan atau
merekomendasikan tempat itu untuk anda kunjungi.




Saya dan Mr.Software Engineer memesan 3 macam menu,
original french fries, chicken crispy steak, and sundae toast.
Over all, nggak enak!
Saus steaknya manis dan terlalu kental,
kelihatan banget pake kanji dalam proses pembuatannya.
Daging steaknya not too bad sebenarnya,
tepungnya enak,
lalu matangnya juga pas.
Yang bikin nggak nahan adalah sausnya,
manis, kental, bau daging sapi...
gatot a.k.a gagal total deh!





Suasana cafe itu sebenarnya lumayan juga,
kursi kayu yang nyaman,
tingginya meja juga pas dengan kursi dan tinggi badan manusia.
Apalagi terletak persis di pinggir jalan raya,
jadi kita bisa dapat pemandangan gratis,
mobil dan motor berlalu lalang.
Oh ya, saya sengaja nggak mau memesan menu
minuman...
mau cicipi dulu bagaimana rasa menu makanannya
baru saya tentukan apakah mau pesan minum atau tidak.
Mr.Software Engineer sempat dapat pertanyaan juga tatapan
aneh dari pelayan cafenya,
heran mengapa kami tak memesan minum.




Mungkin sang pemilik cafe menaruh harapan cukup tinggi,
atas dibukanya usaha ini.
Terbukti di dindingnya banyak bergantungan,
foto menu berukuran besar,
tentu saja tujuannya untuk menarik minat para pembeli.
Salah satu contohnya,
foto minuman dingin yang saya ambil.
Entah bagaimana rasanya,
namun dari gambarnya cukup meyakinkan.
Lanjut ke pembahasan menu,
sundae toast yang sangat tak bisa ditolerir lagi.
Pertama, rotinya nggak enak, teksturnya keras,
tepian rotinya terlalu hangus.
And then irisan pisangnya terlalu besar dan tebal,
sedangkan rasa pisangnya nggak manis sama sekali.
Berikutnya...
rasa ice cream yang aneh banget.
Kami berdua cukup menyukai ice cream,
bermacam-macam harga dan rasa ice cream
pernah kami coba.
Tapi yang kemarin, ice creamnya rasa vanilla,
malah nggak berasa vanilla namun berasa tepung terigu,
iiiuuuhhhh
mungkin itu ice cream homemade yang mana
mereka belum mempelajari betul...
bagaimana rasa ice cream yang seharusnya.
Memang harganya murah meriah,
untuk 3 macam menu hanya 42 ribu rupiah.
Setelah selesai membayar,
saya pun tak terlalu heran,
harganya murah mau rasa enak ya sulit.
Padahal semenjak awal datang,
saya berekspektasi tinggi,
melihat tempatnya yang lumayan cozy.
Ah ternyata rasa dan pelayanannya mengecewakan.
Kalau anda mampir ke kota Boyolali,
saya sarankan ke tempat lain,
jangan mau dikecewakan seperti kami berdua.



Dan...
yang membuat malam minggu kali ini kelabu
adalah perpaduan dari
salah tempat makan dan kehujanan.
Selama perjalanan berangkag maupun pulang,
kami terpaksa berteduh berkali-kali karena guyuran hujan yang sangat deras.
Terlebih lagi,
saat perjalanan pulang ke Salatiga...
kami berdua benar-benar basah kuyup.
Tas dan isinya basag, apalagi baju dan rambut meskipun
sudah pakai jas hujan dan jaket.
Nampaknya kali ini,
kami salah perhitungan.
Karena pada siang hari cuacanya cukup cerah,
bukan berarti aman untuk berkendara naik motor keluar kota.
Sudah basah kuyup,
makanan tak enak pula...
dengan memendam kekecewaan masing-masing,
kami pulang.
Sesampainya di kontrakan,
saya langsung membersihkan badan yang semakin gatal-gatal
terkena air hujan.
Wah, saya takkan kedua kalinya mampir makan di tempat itu,
dan berusaha cari waktu yang lebih baik
untuk perjalanan jauh keluar kota.
Kalau nggak gini, nggak bisa belajar sesuatu kan... :)

107,7 fm



Sejak dulu saya paling enggan kalau diajak nyemplung
ke dalam suatu organisasi.
Waktu duduk di bangku SMU, kepala sekolah secara langsung menunjuk
saya ikut bagian dari OSIS.
Sementara siswa lain sibuk mendaftar jadi bagian OSIS,
bahkan sampai berebut,
saya hanya tenang-tenang saja malah justru menghindar.
Sebelum benar-benar nyata masuk ke dalam sebuah organisasi,
pikiran saya hanya satu...
ah ikut begituan nggak ada manfaatnya, buang waktu,
merepotkan, dan semua itu omong kosong.
Lagian saya ogah kalau harus rapat dan berdebat tentang ini itu,
mempertahankan pendapat,
memberi usulan,
work on team....
percayalah, dulu saya sangat payah dalam hal itu.
Tiba-tiba di suatu senin,
pas upacara bendera....ibu kepsek menunjuk sekaligus melantik
OSIS periode baru.
Begitu terdengar keras nama saya dibacakan,
teman-teman sekelas malah bersorak riang gembira,
saya hanya diam tertegun..sambil bertanya-tanya...
why me?!
Sounds weird memang,
yang lain bersukacita....dan saya berdukacita.
Dalam hati saya bertanya,
kalau sudah masuk OSIS, apa yang mau
saya lakukan?
Ah organisasi tersebut untuk apa sih dibentuk..
merepotkan saja.
Belum lagi kalau harhs ikut kegiatan ini itu,
bikin laporan dan masih banyak lagi.
Hanya satu yang saya suka,
panggilan rapat OSIS ditengah-tengah jam pelajaran,
itu sangat menyenangkan!
Sekalipun begitu, saya tak langsung menuju ke ruang rapat,
biasanya ke kantin dulu...
ke toilet dulu untuk memastikan penampilan saya, hahahaha!
Saya jarang menyimak,
apa-apa saja yang dibahas dalam rapat.
Boro-boro menyanggah pendapat teman,
atau pun memberi usulan,
saya pasif....dan lebih memilih untuk sibuk ber-sms ria
atau ngobrol dengan teman sebelah.
Praktis saya hanya sekedar setor muka,
dan penggembira juga bikin penuh kuota peserta rapat.
Heiiiii siapa suruh memilih saya jadi anggota,
dari awal saya tak ada minat sedikit pun
dengan organisasi ini.
Kalaupun saya terlihat mengecewakan,
dan dikeluarkan dari OSIS,
justru saya akan sangat berterima kasih atas hal itu.
Payah!





Foto pertama dan kedua,
itu kurang lebih situasi studio.
Studio kecil, yang sudah 3 tahun terakhir ini
menjadi tempat aktivitas rutin saya.
Setiap hari senin sampai jumat,
jam 6 sampai jam 8 pagi.
Untuk anda yang bersedia mampir mendengarkan,
bisa langsung stay tune di 107,7 fm
atau
http://radiobethanyfm.listen2myradio.com/
itu untuk jalur live streamingnya.
Nama acara yang saya bawakan adalah syalom, selamat pagi!
Berisi hal-hal penyemangat di pagi hari,
dan lagu-lagu yang boleh diputar hanya lagu up beat.
Pertama kali bergabung disini,
saya pun tak tahu menahu,
tentang bagaimana itu siaran, lalu mengoperasionalkan
mixer...dan masih banyak lagi
seluk beluk dunia radio.
Jangan pernah berpikir jadi penyiar hanya modal
suara renyah dan cerewet saja,
saya harus belajar juga tentang program kepenyiaran
sampai hal detailnya.
Yang sebelumnya, saya kira
ah radio kecil gini mau bikin apa sih...
Tak ada iklan, dana terbatas,
mengharapkan bantuan juga cenderung lama...
ternyata semua salah besar.
Banyak sekali hak-hal detail yang tak terpikirkan
oleh saya,
dan harus dilakukan karena memang standart nya begitu.
Justru karena kru radio dibatasi oleh banyak hal,
menjadikan kami semakin berpikir keras mewujudkan ide dan hasilnya...
kami lebih kreatif.
Tentang ijin siar, lalu peraturan wajib untuk seorang penyiar,
dan tentu saja kegiatan on air maupun off air.
Sejarah saya turut serta dalam radio ini pun,
bisa dibilang dadakan.
Diajak seorang teman,
untuk jadi seorang notulen alias tukang catat saat rapat
berlangsung atau bahasa kerennya sekretaris.
Lama kelamaan, saya diikutkan uji suara
dan lolos pemirsa!
Ya ampun....rasa bahagia itu masih saya ingat
sampai sekarang.
Biarpun sudah sejak tahun 2011 lalu saya bergabung,
tapi hingga detik ini banyak hal-hal baru
yang bisa dipelajari.
Di sini saya takkan memberi tips,
bagaimana siaran yang baik...
atau bagaimana siaran yang disukai pendengar..
ataupun tips jadi penyiar radio populer.
Karena saya yakin tiap orang punya talenta yang berbeda-beda,
tergantung bagaimana langkah kita mengelola
talenta masing-masing..
Honestly,
masuk ke dalam radio sama dengan masuk ke dalam sebuah
organisasi,
di mana dulu saya pernah sangat tidak menyukainya.




Yuhuuuuu,
ini dia kru radio bethany fm.
Berjumlah sembilan orang,
dari berbagai usia, profesi, semua jadi satu.
Bagi saya yang baru pertama kali,
bergabung dalam sebuah organisasi,
memang butuh usaha ekstra untuk penyesuaian.
Bekerjasama dengan orang baru,
lingkungan baru,
menyatukan pendapat juga semangat.
Pernah satu atau dua kali saya hampir menyerah dan ingin keluar,
tapi hanya emosi sesaat.
Ini dia yang saya kurang suka,
dari sebuah organisasi...
saya harus berjalan bersama beberapa orang sekaligus,
dengan karakter yang berbeda-beda, and it's not easy.
Mr.Software Engineer yang sudah lebih banyak
makan asam garam di dunia organisasi,
sering memberi masukan yang melegakan hati.
Meskipun banyak kata-kata, maupun perbuatan
mereka yang sulit dipahami,
sampai saat ini saya masih bertahan.
Dan saya boleh berbesar hati,
menjadi bagian dari kru radio...
ini adalah sebuah anugerah.
Mengingat perjalanan awalnya yang tidak mudah,
uji suara, lalu masa percobaan beberapa bulan,
sebelum saya dinyatakan layak on air.
Rasanya campur aduk,
antara senang, tak menyangka...
semua jadi satu.
Penyesuaian teknis maupun non teknis
akan selalu ada,
dan itu bagus karena membuat saya belajar sekaligus
menerapkan hal baru.




Sadar ataupun belum sadar,
dari awal hidup kita memang dirancang untuk
berorganisasi.
Dengan keluarga, saudara, teman sekolah, teman kerja,
teman kost, pasangan, dan lain-lain.
Anda dan saya takkan pernah bisa lepas,
untuk hidup berdampingan juga bekerja sama.
Setiap lingkungan,
memiliki cara tersendiri untuk memberi pengalaman
pada orang-orang yang ada di dalamnya.
Demikian juga bergabung dengan kru radio...
saya belajar bekerja sama, memaklumi,
menyesuaikan untuk terciptanya satu kesepakatan.
Saya tak lagi pasif,
tapi juga tidak memaksakan kehendak.
Pendapat bilamana dibutuhkan dan waktunya pas,
pasti akan saya ajukan.
Walaupun radio non profit, di kota yang kecil pula
seperti Salatiga,
namun pembelajaran yang saya terima luar biasa.
Dengan masuk dan bertahan dalam sebuah organisasi,
saya lebih siap untuk menghadapi organisasi atau sekumpulan
orang lain di wadah yang berbeda.
Penuh rasa syukur dan terima kasih,
saya boleh ikut dan membaur dalam komunitas tertentu.
Mungkin dari anda ada yang mengalami hal serupa,
enggan untuk berorganisasi
karena menghindari konflik.
Sebenarnya hal itu tak mungkin,
karena keluarga tempat kita dibesarkan pun
pasti sudah mengandung konflik.
Tergantung bagaimana cara masing-masing pribadi
memandang hal tersebut.
Berorganisasi sama sekali bukan hal buruk,
justru seperti menemukan kotak harta karun,
semakin digali semakin kita kaya akan banyak hal.
Selamat mencoba ;)









Wednesday, January 8, 2014

4P


Dengan membaca papan pengumuman di atas,
bisa jadi anda dan saya memilik persepsi yang berbeda.
Bagi saya pribadi,
pengumuman seperti itu sebaiknya memang di pasang di tempat tinggal
sekitar anda.
Saya bukan menjual jasa papan pengumuman dengan
beraneka macam tulisan.
Tapi lebih tepatnya saya sudah merasakan,
tinggal di perumahan yang belum di pasang papan peringatan itu.
Selama tinggal di rumah kontrakan,
hampir setiap hari selalu ada pemulung yang masuk.
Kadang pria berkacamata, sambil merokok, dan membawa karung
di tangan kanannya,
cara membawanya seperti sinterklas bawa karung berisi kado natal.
Yang wanita, pakai topi dan tidak membawa karung.
Mereka menggeledah tempat sampah dari rumah ke rumah,
berharap menemukan sesuatu.
Padahal di perumahan ini sudah ada bapak sampah yang khusus
dua hari sekali datang untuk mengambil sampah...
tapi masih aja para pemulung itu tidak menyerah.
Dua hari yang lalu,
saat saya sedang asyik menjemur cucian...
seorang pemulung wanita datang.
Belum-belum si anjing tetangga a.k.a sapi sudah heboh nggak karuan,
menggonggong tiada henti.
Jelas-jelas ada pemilik rumah, tapi pemulung tanpa permisi,
dengan cueknya langsung membuka keresek sampah.
Saya bertanya,
mau ambil apa ya bu?
dia jawab, mau ambil sampah....
dengan wajah tanpa ekspresi.
Kalau dipikir lagi emang kasihan,
harus cari nafkah dengan mengais sampah.
Mana jalan kaki pula, nggak panas, nggak hujan,
belum lagi kalau dapat bonus di gigit anjing.
Tapi kehadiran mereka cukup menganggu,
karena setelah menggeledah sampah, mereka tak merapikannya lagi.
Alhasil yang semestinya sampah abis dipungut,
harusnya lebih rapi, ini malah jadi lebih berantakan.
Kurang ada pengaturan untuk para pemulung di Salatiga,
lebih baik bila mereka diberi pengarahan terlebih dahulu.
Seperti, merapikan kembali sampah yang digeledah, lalu menjaga
sopan santun juga.
Atau mungkin pemulung yang selama ini beredar adalah pemulung liar,
yang memang kerja perseorangan bberkeliling mengais sampah?!
Dengan melihat cara kerjanya,
bukan kasihan tapi malah berpikiran untuk memindah tempat sampah,
agar mereka para pemulung tidak bisa menjangkaunya lagi.
huuuufftt...





Entah bagaimana dengan kota lain,
kalau di Salatiga tukang parkir termasuk most wanted job!
Buktinya, hampir di semua tempat ada tukang oarkir yang stand by,
tempat makan, bank, pertokoan, kampus, sekolah, tempat hiburan,
salon, dll.
Mulai dari bapak-bapak, sampai ibu-ibu pun ada,
untuk anda yang belum pernah lihat wanita jadi tukang parkir?
yuk datang ke Salatiga, nanti akan saya tunjukkan.
Sampai anak remaja yang memilih menekuni profesi ini pun
juga banyak.
Jadi tukang parkir looks and sounds promising ya.
Ternyata eh ternyata kebanyakan dari mereka,
suka nganggur tapi dapat uang.
Jarang banget ada tukang parkir yang saya lihat niat kerja,
yang ada mereka...
1.Merokok sambil ngobrol
2.Duduk santai, kalau motor atau mobil mau pergi baru mereka lari
3.Sms an atau bbm an atau telfonan
4.Bercanda dengan tukang parkir lain atau tukang becak
5.Tidak membantu memposisikan kendaraan, malah bergegas lari setelah dapat uang.
6.Tukang parkir palsu, karena nggak bawa karcis resmi dari pemerintah.
7.Ke laut aje!
Memang tidak semua,
saya dan Mr.Software Engineer punya beberapa tukang parkir favorit.
Kerja keras, selalu membantu memposisikan dan mengeluarkan kendaraan,
dan tidak pernah pergi jauh ataupun terlihat duduk-duduk santai.
Tidak ada yang keberatan dengan kehadiran tukang parkir,
asal cara kerja mereka juga profesional.
Kalau yang dilakukan hanya kongkow namun dapat uang,
jangankan tukang parkir, saya juga mau deh!
Seringkali kalau tidak sungguh-sungguh bekerja,
saya tak memberi uang pada mereka.
I don't give a shit mau dimaki, dimarahi,
dia aja nggak nungguin kendaraan, nah untuk apa dibayar....
Mau jadi preman atau tukang parkir nih....






Mata pencaharian yang juga most wanted lainnya adalah jadi pengemis,
dan para pengemis itu adalah aktor dan aktris yang...
aktingnya bisa diperhitungkan.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita,
pengemis di Jakarta yang ditangkap pihak berwajib,
dan ternyata berpenghasilan sampai
puluhan juta per bulan.
Aksi yang mereka lancarkan bermacam-macam,
semakin tragis semakin bisa mendapatkan banyak uang.
Duduk di kursi roda, pura-pura berdarah, anak-anak kecil bahkan bayi
dibawa turun ke jalanan untuk mempermainkan emosi kita.
Sejak saat itu semakin marak himbauan,
untuk tidak memberi uang pada pengemis.
Kerjanya cuma duduk,
atau mondar-mandir, berpakaian lusuh,
plus tampang memelas.
Tidak heran mereka sengaja berpakaian compang-camping, satu tangan dimasukkan baju atau jaket agar nampak cacat,
dan masih banyak ide briliant mereka.
supaya si calon pemberi semakin iba...
heiiii but not me.
Saya sudah mati rasa dengan yang beginian.




Pengamen a.k.a musisi jalanan,
juga bertaburan di mana-mana.
Di Salatiga, saya tidak mau makan di tempat-tempat tertentu
karena terlalu banyak pengamennya,
baru makan sesuap, jreng...jreng...jreng...
suapan kedua juga begitu dan selanjutnya.
Pengamen ini juga menganggu lingkungan sekitar,
apalagi kalau sampai ada yang memaki dan memaksa minta uang.
Pengamen di Salatiga sendiri sangat banyak,
ada yang single alias keliling sendirian, ada yang on group.
Masalah usia tentu saja dari anak kecil, sampai orang tua ada,
alat musik yang dibawa pun juga bervariasi, mulai dari yang
paling umum adalah gitar, harmonika, pianika hingga
alat musik alami alias tepuk tangan sambil nyanyi.
Kerap kali saya terganggu dengan keberadaan mereka,
baik di rumah mauoun di luar rumah.
Memang ada beberapa pengamen yang suaranya enak didengar,
penampilan bersih, nggak bau rokok, nggak bau minuman keras.
Kalau yang seperti itu pun,
saya tidak segan untuk memberi lebih.
Ada yang lucu juga,
nyanyi dengan bahasa sendiri cuma ngedumel aja,
dan petik gitarnya juga ngawur.
Kalau anak-anak punk,
mereka memang semangat nyanyi.
Kebanyakan dari mereka menyanyikan lagu ciptaan kalangan sendiri,
lagu bertemakan jenjang status sosial, kecewa terhadap sistem
pemerintahan, kecewa terhadap sikap orang tua, dan sejenisnya.
Anak punk tampil beda dengan rambut warna ngejreng, plus bau minuman keras dan aroma alami tubuh yang tidak mandi berbulan-bulan atau
bahkan bertahun-tahun.
Kalau pun saya memberi uang, pasti akan mereka gunakan untuk
membeli minuman keras, rokok, cat rambut.
Saya sendiri risih, kalau mereka datang,
tepatnya nggak tahan bau dari tubuh mereka.
Begitulah kurang lebih profile para pengamen di Salatiga,
terlepas dari himpitan yang mereka alami masing-masing.




Cukup sudah,
untuk semua omong kosong ini.
Sejak pertengahan 2013 lalu,
saya berkomitmen untuk tidak lagi memberi uang pada pengemis.
Pada pengamen masih sesekali saya beri,
agar saya bisa melanjutkan makan dengan tenang
tanpa suara berisik dan kepulan asap rokok.
Namun saya benar-benar tutup mata dan hati
pada pengemis.
Meskipun mungkin sebenarnya dia memang benar-benar butuh,
saya akan memberi yang lain, bukan berupa uang.
Beberapa kali pemerintah bersikap tegas pada masalah seperti ini,
eh muncul lagi...muncul lagi...
Rasanya nggak ada matinya untuk 4P ini...
Pemulung, tukang Parkir, Pengemis, Pengamen.
Entah apa yang dipikirkan orang yang melakoninya,
saya tidak bermaksud mau menghakimi.
Kalau mau dapat uang ya kerja,
kerja dengan sungguh-sungguh.
Bekerja itu bukan hanya sebutan, atau nama sebuah profesi,
bekerja itu berkarya.
Siapa yang mau membayar orang nganggur,
tanpa kerja hanya ongkang-ongkang tapi minta dibayar.
Silahkan saja, kalau saya dinilai jahat, judes,
nggak punya belas kasihan.
Saya juga nggak mau dipermainkan atas nama
belas kasihan.
Sekedar menyarankan saja,
lebih baik anda pikir ulang kalau mau membantu.
Di sekitar kita, banyak sekali yang bisa diberi bantuan,
baik berupa uang maupun yang lain.
Dengan memberi pengamen, pengemis..
kita akan turut memperbanyak pemalas berkembang pesat
di negara ini.
Juga sebaiknya,
jangan terlalu menyalahkan pihak pemerintah.
Namun mari instropeksi diri sendiri terlebih dahulu,
bahu membahu agar masalah pengemis dan pengamen
yang sudah membludak ini bisa diatasi.
Saling menyalahkan juga nggak ada gunanya,
masalah juga nggak akan selesai.
Anda dan saya hanya perlu memilah lebih bijak,
manakah yang memang membutuhkan bantuan.
Bukannya saya larang untuk menolong sesama,
uhm...sama sekali tidak...
menolong sesama dengan hati ikhlas adalah tindakan yang mulia.
Tergantung pada orang itu memang benar butuh bantuan,
kalau seperti pengemis dan pengamen yang beredar,
hanya akan menambah populasi pengangguran dan pemalas.
Ngapain susah payah sekolah, cari kerja sana sini,
jasi pengemis aja penghasilannya
puluhan juta per bulan kok.
Semoga anda bisa sepaham dan satu suara dengan saya,
dan menjadikan negara ini kebih baik lagi.
Berbuat sesuatu yang berarti untuk negara,
nggak harus dimulai dengan sesuatu yang besar dan menghebohkan.
Turut serta memutuskan rantai pemalas dan pemungut liar,
akan sangat berarti bagi bangsa kita tercinta Indonesia :)




Monday, January 6, 2014

Pelajaran yang (mungkin) tidak diberikan di sekolah.


Siapa sih yang nggak tergoda makan di tempat
all you can eat restaurant?!
Bayar, lalu ambil sepuasnya, sampai kenyang saja masih terus dilanjutkan
sampai kancing celana jeans berasa sesak.
Lately, tempat makan dengan sistem ini memang makin marak,
nggak cuma restaurant,
di hotel-hotel pun kerap kali bikin event all you can eat.
Di Salatiga, beberapa hotel sudah menerapkan metode serupa,
menu yang disediakan pun beragam,
ribs, seafood, bbq, japanese food, dll.
Ditambah promo menarik lainnya,
satu orang cukup bayar 50 sampai 80 ribu rupiah,
sudah makan sepuasnya, mana menunya berdaging-daging pula.
Kalau event di hotel memang tidak semua kalangan turut hadir,
lain cerita di tempat makan prasmanan ala anak kost,
peminatnya bejibun!
Sempat beberapa kali saya ke tempat makan dengan fasilitas all you can eat,
yang paling umum adalah...
saat kita menginap di hotel pasti dapat sarapan yang bisa ambil sendiri.
Berbagai macam irisan buah, salad sayur, bubur ayam, nasi goreng
lengkap dengan lauk pauknya, dan masih banyak lagi.
Di saat itu pula,
saya sering miris mengamati pemandangan di sekitar.
Bagaimana tidak,
orang-orang berbondong-bondong mengambil makanan sebanyak mungkin,
nggak mau rugi, mumpung gratis, hajar bleh!
Nggak di hotel mewah, nggak di restoran cepat saji,
nggak di warung prasmanan ala anak kost, semua sama.
Mentang-mentang diberi kebebasan memilih menu dan porsi,
orang-orang itu lupa diri...gelap mata...
Eh malah ujung-ujungnya nggak habis,
banyak makanan yang masih sisa di piring, ditinggal begitu saja.
Yang tadinya menggebu-gebu menata sedemikian rupa,
bagaimana agar satu piring atau mangkuk muat sebanyak mungkin,
malah lemas tak berdaya.
Untuk apa seperti itu kalau pada akhirnya nggak sanggup
menghabiskan?!
kepuasan pribadi? mumpung gratis?
Kebetulan, dari kecil saya diajarkan untuk menghabiskan makanan,
bertanggung jawab dengan apa yang saya ambil.
Entah apa yang ada dipikiran orang lain,
saat membabi buta menyendok makanan.
Sebaiknya ambil dalam porsi cukup,
anda bisa menikmatinya sengan santai, tanpa sakit perut
dan membuang sisa makanan.
Sayang atuh!






Yang satu ini juga sangat sering terjadi,
di kantor, restaurant, mini market, bank, dll.
Pintu dengan dua sisi,
tarik dan dorong, tolong garis bawahi kata dan.
Dan lho ya bukan atau,
pintu yang bertuliskan tarik ya khusus untuk ditarik.
Sebaliknya pintu yang bertuliskan dorong juga khusus untuk didorong.
Mungkin banyak dari anda sudah tahu hal ini,
namun kenyataan yang saya alami sehari-hari berkata lain.
Masih banyak yang tak tahu atau tak mau tahu,
what the hell with tulisan di pintu,
yang penting mau masuk atau mau keluar.
Nah dari si pembuat pintu atau penyedia jasa,
pasti juga ada maksudnya membuat pintu tarik dan dorong.
Nggak hanya iseng, ngikutin trend yang ada,
atau biar bagus aja pintunya.
Heiiiiii there must be a reason,
dibuat pintu dengan dua sisi.
Tentu saja agar lebih teratur,
tidak berbenturan satu sama lain.
Maka dari itu diciptakan pintu dengan dua sisi,
kalau kita menggunakannya dengan benar,
kita sendiri yang dapat manfaatnya.
Entah, mungkin masih banyak yang berpikiran...
mau masuk dan keluar kok ribet amat,
yang penting pintunya kebuka deh, malas baca instruksi.
Kalau ada 10 orang aja yang kayak gini,
hhhmmm...capek deh.




Fenomena yang satu ini,
juga acap kali terjadi.
Apalagi kalau bukan terobsesi terhadap tisiu toilet,
tisiu makan yang tersedia gratis.
Miris sungguh miris,
lagi-lagi nggak pakai secukupnya namun lebih mengutamakan ideologi,
mumpung gratis!
Lha gratis kok, tarik tisiu sebanyak-banyaknya,
kalau perlu ada yang dibawa pulang juga.
Salah satu teman kost saya,
pernah melakukan hal yang sama.
Di sebuah restoran gudeg di Jogjakarta,
dia ambil tisiu makan dan tanpa tampang berdosa,
dimasukkan ke dalam tas nya.
Sesampainya di Salatiga, saya bicara baik-baik,
kalau memang yang kita gunakan sudah cukup,
untuk apa ambil sebanyak ini malah dibawa pulang segala.
Malah saya dapat jawaban ketus yang menegaskan,
kan mumpung gratis!
Saya hanya bisa tersenyum sambil garuk-garuk kepala,
dan sesegera mungkin berlalu dari hadapannya.
Nggak habis pikir rasanya,
emang mau koleksi tisiu ya sampai sebegitunya,
padahal hanya tisiu makan bukan harta karun berharga saja
kok diperdebatkan.
Itu baru tisiu,
ada teman kost saya yang hobby nyuri asbak dari cafe ke cafe,
sungguh menyedihkan.
Alasannya dia bangga, pernah berkunjung ke cafe-cafe tersebut,
dan sebagai bukti nyatanya dia membawa pulang asbak.
Sambil merenung kejadian itu kembali,
itu kan termasuk dalam pelajaran etika,
masak nggak pernah dapat di sekolah?!
Come ooonnnnnn, cuma tisiu,
ambil seperlunya saja sesuai kebutuhan kita,
lain kesempatan kalau butuh ya beli sendiri bukan
jadi perompak tisiu di tempat-tempat makan.




Hal berikutnya saudara-saudara,
yang nggak kalah bikin gemas...
adalah merokok di tempat umum.
Kalau yang begini mah hampir setiap hari saya jumpai,
di tempat makan, di perhentian lampu lalu lintas,
butik, toko, dll.
Bahkan di ruangan tertutup, ruangan ber AC mereka tetap merokok,
tanpa peduli dengan orang lain.
Yang bikin broken heart juga para ayah, bapak, papa, papi
dengan cueknya merokok di dekat anaknya yang masih kecil bahkan bayi.
Hello, are you okay?
kasihan donk orang lain yang kena imbas buruk dari asap rokok anda.
Bahkan di dalam bus ber-AC ada yang nekad merokok,
hhmm ckckckck pertanyaannya adalah,
di mana hati nurani para perokok itu?
Memang ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang rambutnya lurus,
ada yang rambutnya ikal,
demikian juga ada yang merokok, ada yang tidak.
Akhir-akhir ini sudah mulai disediakan smoking area,
special bagi anda wahai para perokok.
Tolonglah lebih bijak menempatkan diri,
di mana saja anda boleh merokok atau sebaiknya merokok.
Untuk para non smoker, mana ada sih yang suka
bermandikan kepulan asap rokok.
Tapi mungkin bagi para smoker,
bibirnya pahit kalau nggak merokok, gelisah, pusing,
bingung dan masih banyak gejala lainnya.
Merokok adalah pilihan pribadi anda,
tapi sebaiknya jangan di sembarang tempat.
Lebih baik antara smoker dan non smoker bisa
bekerja sama.
Yang merokok ya cari tempat yang sesuai dan kondusif,
bagi yang non perokok hendaknya segera menegur atau
pindah tempat sebelum anda sesak nafas.
Kalau sama-sama bisa nyaman,
kenapa tidak mulai dibiasakan dari detik ini juga.






Semoga dari kita tidak ada yang,
mengunyah makanan sambil ngobrol atau
bahkan sambil tertawa terbahak-bahak.
Menggelikan, sekaligus menjijikan,
dilihat maupun didengar.
Baru saja sabtu lalu, saya mengalaminya..
saat mengantri beli jajanan,
ada seorang pria yang langsung mencomot makanan,
mengunyah dengan keras sembari ngobrol.
Suaranya clap clap clap, agak basah perpaduan air liur dan makanan
yang dikunyah, iiiuuhhhh!
Lebih hebatnya lagi dia melakukan di depan banyak orang,
yang sedang antri juga.
Alamaaaakkkkk...apa nggak tahu,
kalau hal seperti itu nggak sopan.
Payah sungguh payah,
apa ini yang dibilang orang Indonesia memegang teguh
sopan santun...
iya memegang teguh doank..nggak melakukan ya sama aja bohong.






Foto-foto yang saya cantumkan di atas,
memang diambil dari internet,
tapi tidak dengan yang terakhir.
Foto yang kira-kira saya ambil sebulan lalu,
di warung bubur ayam dekat rumah kontrakan.
Makan dengan kaki kanan dinaikkan ke atas,
dan (maap) celanan dalam yang kelihatan.
Jelas nggak sopan,
dan kurang tahu mengapa mas ini melakukan
dengan cueknya.
Saya pikir pelajaran PPKN yang notabene ada hal tentang etika juga
itu merata didapatkan,
di semua sekolah dasar di Indonesia.
Namun sayang sekali,
tidak semua murid mencerna dengan baik
pelajaran yang diberikan.
Mana ada makan di tempat umum, dengan kaki dinaikkan,
berasa di rumah pribadi.
Memang hanya warung bubur ayam,
bukan restoran mewah,
yang saya bahas di sini bukan tempatnya, namun perilakunya.
Di mana pun anda dan saya berada,
berperilaku sopan itu penting,
dan sebenarnya sudah tertanam di hati kita masing-masing,
karena setiap manusia dianugerahi hati nurani.
Hal-hal seperti pembahasaan saya di atas,
mungkin belum pernah detail diberikan di sekolah.
Namun apakah tak pernah terpikirkan selama ini,
bahwa melakukan hal yang kurang sopan itu tidak baik,
dan menganggu orang-orang yang ada di sekitar anda.
Kembali lagi pada pilihan pribadi,
mau berperilaku seperti apa...
tapi bila suatu saat anda ditegur karena perbuatan anda sendiri ya jangan heran.
Masing-masing kita diciptakan untuk hal baik,
jadi marilah menjaga sopan-santun,
percayalah nggak ada ruginya.
Di samping itu,
mana ada sih yang mau dikatain nggak punya sopan santun,
kita semua yang masih sehat secara kejiwaan,
pasti ingin membangun citra diri yang baik.
So, tunggu apalagi...
mari kita perbaiki bersama dimulai dari diri sendiri.

Saturday, January 4, 2014

Kemerdekaan!



Januari baru berjalan 4 hari,
masak udah mau bahas tentang kemerdekaan sih...
kan bulan agustus masih lama...?!
relax pals...
First of all,
arti kemerdekaan menurut KBBI sendiri adalah
keadaan (hal) bebas, lepas, tidak terjajah lagi.
Saya ingin sharing pengalaman pribadi,
tentang kemerdekaan.
Dan movie poster di atas adalah salah satu contohnya,
merdeka dari sesuatu yang membelenggu.
Kisahnya tentang kehidupan pribadi seorang pria bernama Don Jon,
yang kecanduan porn movies.
Waktu berlalu,
and finally DJ bisa terlepas dari semua itu.
Kalau anda punya hobby nonton film,
boleh coba deh.. :)
Saya melihat sisi lain dari film itu,
sebenarnya untuk lepas dari sesuatu yang membelenggu kita
mudah caranya yaitu milikilah niat yang kuat.
Keren juga tuh film,
nggak cuma obral adegan panas, tapi juga ada nilai
yang bisa dipelajari.
Nah, kalau yang di bawah ini adalah
kisah milik saya...




Adegan eh masakan panas berikutnya adalah
udang.
Siapa sih yang nolak disuguhi menu di atas,
udang goreng, lengkap dengan saus atau sambal.
Untuk saus cocolan bisa dipilih sesuai selera,
sambal botol, sambal uleg, atau mayonaise juga ok.
Digoreng telanjang, maupun berselimutakn tepung,
juga tetap mengugah selera.
Dulu, sewaktu masih berstatus anak kost
yang total mengandalkan kiriman orang tua,
jarang-jarang saya bisa makan udang.
Paling kalau lagi ditraktir teman yang ulang tahun,
atau lagi pulang ke rumah.
Maklum, untuk menu-menu sejenis seafood seperti
udang, cumi, kerang, kepiting itu harganya relatif mahal,
walaupun di warung-warung.
Jadi makan udang bisa termasuk moment special,
special pakai udang bukan pakai telur, hahaha!
Anyway, salah satu teman dekat ibu, adalah pemilik tambak udang,
jadi saya tak pernah kekurangan stok udang selama
berada di rumah.
Menu masakan udang favorit saya adalah,
udang goreng yang dibumbui...
bawang putih, garam, dan sedikit air asam jawa.
Kelezatannya tingkat dewa deh!
Hampir di semua restaurant chinese food maupun western,
pasti ada menu udang.
Mungkin salah satu dari anda juga penggemar berat udang,
apalagi disajikan selagi masih hangat,
siiiippp!
Saat-saat mudik, adalah saat yang paling menyenangkan,
bisa makan udang sepuasnya,
mau sehari 3 kali juga bisa deh.





Sebagai orang Jawa Timur asli,
kurang afdol kalau nggak doyan rawon hitam.
Cita rasa kluwek yang khas, ditambah lauk pauk jeroan sapi
yang melelehkan air liur kapan saja mencium aromanya.
Anda yang sudah pernah tinggal atau berkunjung ke Jawa Timur,
mungkin sudah mencicipi kelezatan rawon hitam.
Begitu banyak restoran hingga warung kaki lima,
yang menyediakan menu ini.
Tentu saja dengan sambal taoge dan aneka lauk,
ada telur asin, ada juga jeroan.
Sejauh ini lauk jeroan memang menduduki peringkat
best seller.
Tempat kelahiran saya di Bojonegoro,
adalah satu daerah yang banyak penjual rawonnya.
Harga kaki lima sampai bintang lima,
semua bisa dijumpai di kota kecil itu.
Dan selama saya tinggal di Salatiga,
sepertinya penjualan rawon hitam tak sebagus di tempat asalnya
Jawa Timur.



Kalau Bojonegoro punya rawon hitam,
Salatiga punya nasi goreng babat iso.
Babat iso adalah jeroan sapi,
yang diolah dengan berbagai macam bumbu.
Hampir di semua tempat makan,
pasti ada menu babat iso.
Dan tentu saja best seller!
Dulu, saya sangat menggandrungi menu yang satu ini,
setiap hari makan nasi gireng babat iso.
Lagian, ada beberapa tempat makan yang menjual
menu babat iso dengan harga anak kost,
tapi rasanya delisioso abeeess!
Rasanya ada yang kurang kalau belum makan babat iso,
karena memang rasanya enak, porsinya banyak, harganya bersahabat
dengan kantong pribadi.
Harga per porsi sekitar 8 sampai 10 ribu rupiah saja.
Pernah juga lho saya curi-curi keluar kost sekitar jam 2 dini hari,
khusus untuk makan nasi goreng babat.
Niat banget yak!
Pokoknya hidup akan terasa hambar tanpa
hadirnya makanan-makanan kesukaan saya.
Hhhmmm nasi goreng babat iso,
lalu babat iso gongso, with pete or not.
Apalagi kalau ke rumah makan padang, berasa ke penjagalan sapi,
organ sapi dari atas sampai bawah semua ada bok!
hiiiiiiii





Swikee yang kita kenal selama ini adalah menu khas Purwodadi,
wah...dulu saya juga sangat doyan swikee.
Terutama swikee bikinan ibu yang yahud sedunia, hahahaha!
swikee dimasak kuah taoco ditaburi bawang goreng,
sambalnya cabe rebus diuleg ditambah jeruk nipis,
jossss!
Tidak hanya di Purwodadi yang ada penjual swikee,
di beberapa daerah seperti Salatiga, Semarang, Demak
juga ada tempat-tempat makan yang menyediakan menu swikee.
Swikee dapat diolah dengan berbagai macam cara,
bisa dimasak kuah taoco, digoreng tepung, atau ditumis dengan potongan
jahe segar dan jeruk lemon.





Almost everyone like soft drink,
setuju ya...
Dari anak kecil, remaja hingga dewasa kebanyakan
suka minuman bersoda.
Berbagai macam perayaan ulang tahun, peenikahan, sunatan,
tahun baru, lebaran, minuman bersoda
dirasa cocok di segala situasi.
Cuaca panas, kalau minum soda dingin, manis pula...
rasanya segar jiwa raga.
Waktu saya duduk di bangku SLTP, saya sedang gandrung berat
dengan minuman soda.
Sehari bisa 3 kali minum,
rasanya segar dan bikin semangat.
Pelajaran bikin bete, apalagi gurunya nggak kalah nge-betein,
solusinya minuman soda dingin.
Restoran, hotel, depot, kedai, cafe
semuanya pasti menjual minuman soda.
Harganya juga terjangkau banget
untuk semua kalangan.
Soda juga bisa dikombinasikan dengan banyak minuman lainnya,
dengan susu kental manis, sirup aneka rasa, kopi, teh.
Untuk ke depannya jangan kaget kalau ada
minuman kunir asem soda, jahe soda, brotowali soda, atau
apapun yang dipaksa berkolaborasi dengan soda dan gula.
Kemasannya apik, warna menarik, rasanya juga asyik
makanya banyak anak muda yang ngerasa nggak gaul
kalau belum minum soda.
Bukan hanya di Indonesia, di negara lain
juga sangat mengidolakan minuman soda.
Kesimpulannya,
soda sudah mendunia.




List makanan di atas,
mungkin termasuk makanan favorit anda juga.
Dulu memang saya sangat menyukainya,
tanpa mempedulikan faktor kesehatan.
Banyak pemikiran untuk berdalih...
"ah...kalau nggak dimakan tiap hari kan nggak pa pa"
"lagian badan saya kurus, mana mungkin kena kolestrol tinggi"
"sungkan, udah dijamu, udah ditraktir masak ditolak"
"hidup cuma sekali, makanya harus dinikmati"
dan masih banyak lagi dalih pribadi lainnya.
Anda mungkin tidak menyadari,
sudah terikat dengan hal-hal sepele
seperti makanan dan minuman.
Saya sudah memutuskan untuk menjalani
gaya hidup sehat.
Yang saya konsumsi hanya white meat alias ayam dan ikan,
selebihnya tidak.
Kenapa?
Karena semakin kesini,
saya semakin yakin diciptakan untuk jadi seorang pemenang bukan pecundang.
Pecundang yang hasratnya nggak bisa dikelola,
pecundang yang cenderung menyerah dengan hal-hal yang mengikatnya.
Saya memilih untuk merdeka,
dari hal-hal yang menjerat dan mengikat.
No seafood, no bebek, no babi, no swikee, no ikan lele dan belut,
no babat iso.
Sudah banyak teman yang mengejek,
ngapain hidup cuma sekali kok dibikin susah.
Hidup harus dinikmati,
dan salah satu cara menikmatinya adalah menikmati
makanan yang enak-enak.
Paling saya hanya bisa tersenyum kalau dikatakan begitu,
tanpa rasa tersinggung sedikit pun.
Cara menikmati hidup memang berbeda-beda,
dan beginilah cara saya.
Terikat, terbelenggu dengan sesuatu,
tidak akan bisa membuat anda dan saya maksimal.
Bersyukur,
bahwa pembaharuan demi pembaharuan ke arah yang lebih baik,
saya rasakan di tahun 2014 ini.
Apapun yang nengikat anda,
entah itu makanan atau kebiasaan,
akan menentukan masa depan kita.
Saya yakin,
masa depan di tangan Tuhan, tapi saya lah yang memperjuangkan.
Freedom is great!
lihat orang makan jeroan dengan lahap,
saya cuma senyum, dan sudah tidak ada rasa tergiur sedikitpun.
Saya sudah merdeka,
bagaimana dengan anda?






Thursday, January 2, 2014

Happy New Year


Itu foto langit,
di hari kedua di tahun yang baru, tahun 2014.
Diambil dari depan rumah burung dara,
a.k.a sebutan untuk rumah kontrakan saya.
Pagi ini Salatiga cerah,
secerah harapan baik saya menyambut tahun ini.
Sebenarnya mau cerah, mau mendung cuacanya,
yang lebih penting cuaca hati kita harus selalu cerah.
Tak terasa tahun 2013 berlalu,
meninggalkan kenangan baik maupun kurang baik,
juga mengajarkan banyak hal pada saya pribadi.
Dan inilah lembaran baru di tahun baru,
lembaran yang masih kosong,
yang menunggu saya isi dengan berbagai macam hal.
Biasanya kalau masih hangat tahun baru,
semangatnya masih membara.
Seiring berjalannya waktu jangan sampai kita lupa akan
berbagai hal baik yang kita harapkan.
Tahun baru, gerbang waktu yang baru,
dan hal-hal baru akan disuguhkan dalam hidup kita satu persatu.
Seperti yang dilakukan orang lain...
pada umumnya mereka hang out di malam pergantian tahun.
Gala dinner, bakar uang a.k.a kembang api dan petasan atau rokok,
juga beribadah ke gereja.
Sayang sekali, semua ritual umum itu tak ada satupun yang saya lakukan.
Malam pergantian tahun di Salatiga,
dipenuhi oleh kendaraan bermotor yang terburu-buru sampai
di tempat tujuan.
Masyarakat sekitar kota Salatiga,
berhamburan menuju ke tengah kota.
Seolah mereka tak ingin terlambat menjadi saksi hidup,
betapa meriahnya suasana pergantian tahun.
Di beberapa tempat memang sengaja menyelenggarakan acara,
untuk menyambut moment ini.
Mulai dari hotel, restaurant, cafe, bahkan hingga produk tertentu
sekalian promosi.
Rencana awal bahwa saya akan ikut ibadah pergantian tahun pun
terpaksa dibatalkan.
Setelah melihat sebentar keramaian jalan raya,
saya angkat tangan deh :)
Akhirnya malam pergantian tahun,
saya lewati bersama Mr.Software Engineer
di rumah kontrakan, ditemani suara berisik terompet
dan petasan dari jalan raya.
Dan entah kenapa, malam itu udara di Salatiga sangat dingin,
nggak hujan tapi dinginnya menusuk ke tulang.
Saya memutuskan hal paling bijak,
adalah tidur nyenyak dibalik selimut pada malam
pergantian tahun.



Tahun baru kurang afdol rasanya tanpa make a wish,
satu, lebih dari satu, atau lebih dari sepuluh,
biasanya kita komat-kamit berdoa memohon harapan-harapan
untuk tahun 2014 ini.
Saya bersama Mr.Software Engineer juga melakukan hal yang sama,
make a wish.
Dan menurutnya,
harapan itu ditarik garis besarnya saja.
Buktinya saya lupa, apa saja harapan saya untuk tahun 2013,
ingin ini ingin itu banyak sekali...
apa mungkin karena saya tidak mencatatnya.
hahaha!
Satu hal yang teringat, saya tak pernah berharap
kontrak rumah, eh malah dikasih kontrak rumah.
Hal lain, sudah beberapa kali saya mempunyai blog,
mungkin 4 atau 5 kali,
namun akhirnya mangkrak, saya tinggalkan begitu saja.
Gabungan antara rasa takut, malas,
dan lupa password yang membuat selama ini
blog yang saya miliki bagai ilusi.
Eh, tahun 2013 tidak disangka-sangka saya malah rutin
nulis blog.
Alasan utamanya ya karena saya memang minat di dunia
tulis-menulis,
Walaupun banyak melalui rintangan, saya percaya yang namanya
niat baik pasti ada jalannya sendiri.
Langkah awal mempunyai, dan menulis di blog baru
rasanya mirip pindah ke tempat tinggal baru.
Campuran antara rasa senang, bersemangat,
sekaligus ketakutan.
Asing, tapi mengundang rasa penasaran yang cukup kuat
untuk masuk di dalamnya.
Namun kalau hanya berkutat di situ-situ saja,
saya takkan mengalami kemajuan.
So, go ahead!
Hari demi hari, jam demi jam yang kita lalui,
akan penuh dengan kejutan.
Mungkin ada yang tepat dengan prediksi atau perkiraan kita,
namun tidak semua seperti itu.
Bukan hidup namanya kalau tanpa kejutan!
Justru inilah serunya hidup,
penuh dengan hal-hal tak terduga yang ada di depan mata.
Intinya saya ringkas jadi satu,
harapan saya di tahun 2014 ini adalah
jadi pribadi yang lebih baik.
Amin.




Kalau yang di atas ini adalah foto selfie pertama saya di tahun 2014.
Narsis boleh donk, hahaha!
Wajah lama, baju lama,
tapi semangat baru.
Yang jelas, ada 2 aktivitas baru yang akan saya jalani di tahun ini,
Yang pertama,
saya akan mengurangi intensitas pergi ke cafe.
Setelah dipikir ulang, makan di cafe memperumit
pengaturan keuangan.
Jadi untuk urusan ke cafe,
akan diatur melalui sistem penanggalan ala saya pribadi.
Nampak mustahil, bagi saya yang doyan banget minum kopi,
dan menikmati suasana baru.
Niat kuat yang lahir dari diri sendiri yang akan..
sangat membatu saya untuk mewujudkannya.
Yang kedua,
saya sudah mulai menabung jangka panjang
dan tentunya akan dilanjutkan.
Honestly, menabung adalah hal tak terduga tahun 2013,
secara tiba-tiba saya akhirnya mau menabung.
Beneran nih, kalau nggak nekad gini, saya nggak akan
bisa menabung seumur hidup.
Prinsip sebelumnya, hidup cuma sekali,
untuk apalagi kalau nggak dinikmati.
Punya uang ya untuk dihabiskan,
nggak mikir untuk saving.
Payah ya?!
Begitulah saya, dengan pelajaran menabung yang pada awalnya
sungguh menyiksa.
Tangan dan kaki susah gatal untuk pergi ke pusat perbelanjaan
dan membeli apa saja yang diinginkan,
catat diinginkan bukan dibutuhkan.
Mungkin anda juga mengalami hal yang sama,
mendadak harus membiasakan diri dengan sesuatu yang baru.
Bukan hanya pada saat tahun baru,
anda dan saya bisa mengalami hal-hal yang baru,
namun setiap hari kita juga bisa mengalaminya :)



Mari kita tinggalkan tahun 2013, dan menyambut tahun 2014,
yang baik dilanjutkan bahkan ditingkatkan,
yang kurang baik ditinggalkan.
Seperti yang sudah saya ceritakan di atas,
menabung adalah kebiasaan baru bagi saya.
Butuh penyesuaian ekstra bagi saya yang
punya hobby belanja.
Mungkin anda heran atau bahkan menertawakan saya,
ini orang aneh kok nggak bisa nabung.
Tapi sungguh setiap kali saya nabung,
setiap itu juga kebobolan,
maka dari itu untuk mengantisipasinya saya ikut tabungan
jangka panjang.
Kebiasaan baik, kebiasaan sehat mungkin
lebih sulit untuk silakukan rutin dari hari ke hari,
namun percayalah kita juga nanti
yang akan memetik buahnya.
Aktivitas sehari-hari adalah seperti menabur benih,
suatu saat akan ada masa panen.
Tentu saja, kalau tanam padi bakal tumbuh padi,
menanam makanan sehat dalam tubuh ya bakalan
panen raya kesehatan.
Sebenarnya banyak hal baik, hal positif
yang bisa anda dan saya lakukan.
Senyum adalah hal paling sederhana,
gratis, nggak buang energi
tapi saat panen nanti akan mengejutkan buahnya.
Saya akan memperbanyak senyum untuk tahun ini,
dan memperbanyak konsumsi makanan sehat.
Sekarang saya bisa menyimpulkan,
hidup cuma sekali...
rasanya percuma banget kalau nggak diisi
dengan hal baik dan bermanfaat.
Ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau,
tidak perlu orang pintar untuk berbuat baik dengan ketulusan.
Di sini saya hanyak mengajak, masalah keputusan akhir tentu saja
kembali pada masing-masing pribadi.
Hidup kita ya kita yang menjalani,
bukan milik orang lain.
Yuuukkk...
kita isi tahun ini dengan hal-hal baik dan menyenangkan.
For the better future:)